Tulisan Terbaru

Halaman: [1] 2
Thermal Hydraulic Analysis of 3 MW TRIGA Research Reactor of Bangladesh Considering Different Cycles of Burnup
M.H. Altaf, N.H. Badrun


Burnup dependent steady state thermal hydraulic analysis of TRIGA Mark-II research reactor has been carried out utilizing coupled point kinetics, neutronics and thermal hydraulics code EUREKA-2/RR. From the previous calculations of neutronics parameters including percentage burnup of individual fuel elements performed so far for 700 MWD burnt core of TRIGA reactor showed that the fuel rod predicted as hottest at the beginning of cycle (fresh core) was found to remain as the hottest until 200 MWD of burn, but, with the progress of core burn, the hottest rod was found to be shifted and another rod in the core became the hottest. The present study intends to evaluate the thermal hydraulic parameters of these hottest fuel rods at different cycles of burnup, from beginning to 700 MWD core burnt considering reactor operates under steady state condition. Peak fuel centerline temperature, maximum cladding and coolant temperatures of the hottest channels were calculated. It revealed that maximum temperature reported for fuel clad and fuel centerline found to lie below their melting points which indicate that there is no chance of burnout on the fuel cladding surface and no blister in the fuel meat throughout the considered cycles of core burnt.

« Tulisan terakhir oleh nkm_andri pada 05 Mei 2015, 05:08:16 AM »
S. Soentono

Fuel is essential for development whether for survival and or wealth creation purposes. In this century the utilization of fuels need to be improved although energy mix is still to be the most rational choice. The large amount utilization of un-renewable fossil has some disadvantages since its low energy content requires massive extraction, transport, and processing while emitting CO2 resulting degradation of the environment. In the mean time the advancement of nuclear science and technology has improved significantly the performance of nuclear power plant, management of radioactive waste, enhancement of proliferation resistance, and more economic competitiveness. Ever since the last decade of the last century the nuclear renaissance has taken place. This is also due to the fact that nuclear energy does not emit GHG. Although the nuclear fuel offers a virtually limitless source of economic energy, it is only so if the nuclear fuel is reprocessed and recycled. Consequently, the fuel cycle is to be even more of paramount important in the future. The infrastructure of the fuel cycle services worldwide has been adequately available. Various International Initiatives to access the fuel cycle services are also offered. However, it is required to put in place the International Arrangements to guaranty secured sustainable supply of services and its peaceful use. Relevant international co-operations are central for proceeding with the utilization of nuclear energy, while this advantageous nuclear energy utilization relies on the fuel cycle services. It is therefore concluded that the fuel cycle services are the heart of nuclear energy, and the international nuclear community should work together to maintain the availability of this nuclear fuel cycle services timely, sufficiently, and economically. 2007 Atom Indonesia. All rights reserved
Bahan Bakar Nuklir / Development of TRIGA Fuel Fabrication by Powder Technique
« Tulisan terakhir oleh nkm_andri pada 05 Mei 2015, 05:06:42 AM »
Development of TRIGA Fuel Fabrication by Powder Technique
H. Suwarno

The prospect of operation of the Indonesian TRIGA reactors may be jeopardizes in the future due to the lack of fuel and control rods. Both fuel and control rods may not longer be imported and should be developed domestically. The most specific technology to fabricate TRIGA fuel rod is the production of UZrH1.6 pellet. The steps include converting the massive U metal into powder in by hydriding-dehydriding technique and mixing the U and Zr powders. A research has been planned to conducted by the National Nuclear Energy Agency (BATAN) in Indonesia. Fixed amount of U-Zr mixed powders at the ratio of U/Zr = 10 wt% was pressed into a pellet with a diameter of 1.41 in and a thickness of 1 or 1.5 in, sintered at a temperature of 1200oC, followed by hydriding at 800oC to obtained UZrH1.6. The pellets, cladding, and other components were then fabricated into a fuel rod. A detailed discussion of the TRIGA fuel fabrication is presented in the paper.
Informatika / Belajar Code Igniter.....
« Tulisan terakhir oleh nkm_andri pada 04 Mei 2015, 03:13:39 PM »

Model-View-Controller atau MVC adalah sebuah metode untuk membuat sebuah aplikasi dengan memisahkan data (Model) dari tampilan (View) dan cara bagaimana memprosesnya (Controller). Dalam implementasinya kebanyakan framework dalam aplikasi website adalah berbasis arsitektur MVC.[1] MVC memisahkan pengembangan aplikasi berdasarkan komponen utama yang membangun sebuah aplikasi seperti manipulasi data, antarmuka pengguna, dan bagian yang menjadi kontrol dalam sebuah aplikasi web.[2]

Sejarah MVC

Model View Controller pertama sekali dipublikasikan oleh peneliti XEROX PARC yang bekerja dalam pembuatan bahasa pemrograman Smalltalk sekitar tahun 1970-1980.[1]
Bagian dari MVC

    Model, Model mewakili struktur data. Biasanya model berisi fungsi-fungsi yang membantu seseorang dalam pengelolaan basis data seperti memasukkan data ke basis data, pembaruan data dan lain-lain.
    View, View adalah bagian yang mengatur tampilan ke pengguna. Bisa di katakan berupa halaman web.
    Controller, Controller merupakan bagian yang menjembatani model dan view. Controller berisi perintah-perintah yang berfungsi untuk memproses suatu data dan mengirimkannya ke halaman web.[2]

Dengan menggunakan metode MVC maka aplikasi akan lebih mudah untuk dirawat dan dikembangkan. Untuk memahami metode pengembangan aplikasi menggunakan MVC diperlukan pengetahuan tentang pemrograman berorientasi objek (Object Oriented Programming).[2]
Jenis MVC pada website

    Server Side MVC, Server Side MVC biasa terjadi pada aplikasi web tradisional, yang tidak melibatkan client side seperti Javascript, Java applet, Flash, dan lain-lain. Server Side MVC menyerahkan keseluruhan proses bisnis pada server, aplikasi pada sisi pengguna hanya dapat menerima. MVC jenis ini kadang-kadang disebut juga dengan nama Thin Client.[2]
    Mixed Client Side and Server Side MVC, Pada Mixed Client Side and Server Side MVC 1 client tidak menggunakan model sebagai jembatan untuk melakukan komunikasi pada server, dibandingkan dengan Server Side MVC, arsitektur ini memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi karena lebih banyak komponen yang terlibat. Untuk selanjutnya arsitektur ini disebut, dengan Mixed MVC 1. Pada Mixed Client Side and Server Side MVC 2, client menggunakan model sebagai jembatan untuk melakukan komunikasi pada server, dibandingkan dengan arsitektur MVC yang lain, arsitektur ini memiliki tingkat kompleksitas yang paling tinggi karena lebih banyak komponen yang terlibat, sehingga membutuhkan sumber daya yang lebih besar pula. Untuk selanjutnya arsitektur ini disebut dengan Mixed MVC 2.[2]
    Rich Internet Application MVC, Application MVC Rich Internet Application (RIA) disebut juga dengan nama Fat Client, merupakan aplikasi web yang memiliki kemampuan dan fungsi hampir seperti aplikasi desktop. RIA pada sisi client, memiliki mesin untuk mengambil data yang berada pada server, sehingga pada client terdapat bagian MVC sendiri dan hanya membutuhkan bagian model pada sisi server.[2]

Sumber : http://id.wikipedia.org
Synthesis of Zr-1%Nb-1%Sn-1%Fe alloy is undertaken in order to develop fuel cladding alloy at high burn-up. Powder specimens of Zr-Sn-Nb-Fe alloy were prepared and then formed into pellets with a dimension of 10 mm in height 10 mm in diameter using a pressure of 1.2 ton/cm2. The 5 gram green pellets were then melted in an arc furnace crucible under argon atmosphere. The pressure in the furnace was set at 2 psi and the current was 50 A. Afterwards, the ingots were heated at a temperature of 1100C for 2 hours and subsequently quenched in water. The ingots then underwent annealing at temperatures of 400C, 500C, 600C, 700C, and 750C for 2 hours. The specimens were analyzed using X-ray diffraction in order to construct diffractograms. Results of the diffraction patterns were fitted with data from JCPDF (Joint Committee Powder Diffraction File) to determine the type of crystals in the elements or substances. The greater the crystallite dimension, the smaller the dislocation density. Agreeable results for hardening or strengthening were obtained at annealing temperatures of 500C and 700, whereas for softening or residual stress at 600C and 750C. The nucleation of the secondary phase precipitate (SPP) was favourable at annealing temperatures of 400C, 500C, and 700C. For Zr-1%Nb-1%Sn-1%Fe alloy with annealing temperatures between 400C to 800C, precipitates of Fe2Nb, ZrSn2,FeSn, SnZr, NbSn2, Zr0.68Nb0.25Fe0.08, Fe2Nb0.4Zr0.6, Fe37Nb9Zr54, and w-Zr were observed. Satisfactory precipitate stabilization was achieved at annealing temperature of 800C, growth of precipitates at temperature between 500C to 600C, and minimization of precipitate size at 700C. 2010 Atom Indonesia. All rights reserved
Informatika / Perangkat Lunak Komputer
« Tulisan terakhir oleh nkm_andri pada 04 Mei 2015, 01:20:45 PM »
Diskusi tentang Pembuatan dan Pemanfaatan Perangkat Lunak.
Safty Culture / Siap siap launching
« Tulisan terakhir oleh nkm_andri pada 13 Januari 2015, 11:30:33 AM »
Siap siap launching
Safty Culture / Belajar mengisi kalender
« Tulisan terakhir oleh nkm_andri pada 13 Januari 2015, 11:29:41 AM »
yuk isi kalender
Safty Culture / Amankah ruang kerja kita.
« Tulisan terakhir oleh nkm_andri pada 13 Januari 2015, 10:47:34 AM »
Silahkan isi mengenai keselamatan ruang kerja.....
« Tulisan terakhir oleh nkm_andri pada 13 Januari 2015, 10:45:19 AM »
By HSP  - Penulis:  Ismail. A

Berawal dari laporan International Atomic Energy Authority (IAEA) pada tahun 1991 tentang kecelakaan yang terjadi di Chernobyl yang memperkenalkan budaya keselamatan, perhatian akan budaya keselamatan pada suatu organisasi mulai dilirik sebagai salah satu penyebab terjadinya major accident. Usaha untuk menurunkan tingkat kecelakaan dimulai dari usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan teknologi (engineering, equipment, Safety, compliance) dan sistem (integrating HSE, certification, competence, risk assessment), namun demikian teknologi dan sistem ini tidak dapat menurunkan tingkat kecelakaan sampai pada tingkat yang diinginkan. Kemudian pada akhir tahun 1990 dilakukan pendekatan budaya (behavior, leadership, accountability, attitudes, HSE as profit center), ternyata pendekatan ini dapat menurunkan tingkat kecelakaan ke level yang lebih rendah.

Tingkatan paling bawah dari budaya keselamatan adalah pathological, dimana pada kondisi ini setiap orang yang ada dalam organisasi tidak ada yang peduli satu sama lain karena mengganggap itu adalah tanggung jawab dan risiko masing-masing. Tingkatan kedua sedikit lebih baik daripada tingkatan pertama yaitu reaktif, dimana sudah terbentuk budaya bertindak setelah terjadi kecelakaan atau kegagalan. Tingkatan ketiga adalah calculative dimana pada tingkatan ini sudah terdapat sistem pengendalian bahaya dan risiko di tempat kerja. Tingkatan keempat adalah proaktif dimana safety leadership dan values sudah diterapkan, dan perbaikan secara terus menerus sudah dilakukan dengan melibatkan pekerja untuk bersifat proaktif dalam mengidentifikasi potensi bahaya dan risiko. Tingkatan paling tinggi adalah generatif, pada tingkatan ini keselamatan dan kesehatan kerja sudah merupakan bagian dari setiap proses dan kegiatan bisnis pada perusahaan tersebut dalam segala tingkatan.

Edgar Schein, ahli psikologi organisasi, mengembangkan model tentang budaya organisasi yang dikelompokkan pada tiga tingkatan yaitu sesuatu yang dapat langsung teramati yang disebut artifak dan perilaku, sedangkan yang tidak teramati tapi bisa diketahui dan dijabarkan adalah tata nilai, dan yang terakhir adalah asumsi dasar. Menurut model ini setiap budaya keselamatan pada hakekatnya mempunyai karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut akan tampak pada tiap tingkatan baik pada tingkat artifak dan perilaku, tingkat tata nilai maupun pada tingkat asumsi dasar.

Budaya keselamatan dapat ditinjau dari kaca mata ketidakpastian manajemen organisasi. Ada dua pendekatan terhadap ketidakpastian organisasi, yaitu:
1. Meminimalkan ketidakpastian (minimizing uncertainties-MU).
2. Mengatasi ketidakpastian (Coping with uncertainties-CU).
Ada kekurangan dan kelebihan masing-masing dari kedua metode pendekatan diatas. Sistem budaya keselamatan diusulkan untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan kedua metode tersebut. Berdasarkan konsep socio-technical model dari budaya keselamatan dikembangkan angket pertanyaan yang dapat digunakan untuk audit manajemen dan budaya keselamatan. Ada 3 pendekatan konsep socio-technical model yaitu Proactive, Socio-technical integration dan Values consciousness. Mengaitkan sistem manajemen, budaya keselamatan dan sociotechnical model dapat mengurangi kelemahan budaya keselamatan, karena:
Budaya keselamatan akan lebih terpancang dan mengakar pada keseluruhan organisasi.
Disain organisasi akan terhubung dengan prinsip keselamatan baik dari sisi material dan immaterial (moral).

Peran budaya keselamatan dalam pendekatan CU adalah soft coordination sementara pendekatan MU adalah hard coordination. Pendekatan CU dengan soft coordination lebih sesuai dilakukan untuk peningkatan partisipasi, keterlibatan, perilaku, tanggungjawab, kepemimpinan dan interaksi team. Sementara pendekatan MU dengan hard coordination lebih menekankan pada perintah dan kontrol sehingga lebih sesuai untuk pekerjaan rutin.
Untuk mengembangkan budaya keselamatan yang positif ada beberapa point yang harus dilakukan yaitu; merubah sikap dan perilaku, komitmen manajemen, keterlibatan karyawan, strategi promosi, training & seminar dan spesial program. Budaya keselamatan yang positif memiliki lima komponen:
1. Komitmen manajemen terhadap keselamatan.
2. Perhatian manajemen terhadap pekerja.
3. Kepercayaan antara manajemen dan pekerja.
4. Pemberdayaan pekerja.
5. Pengawasan, tindakan perbaikan, meninjau ulang sistem dan perbaikan secara terus menerus.
Ada dua pendekatan untuk mengukur kinerja sistem keselamatan:
Reactive, Downstream or Lagging Indicators
Proactive, Upstream or Leading Indicators
Berdasarkan hasil kajian berbagai literatur tentang budaya keselamatan yang dilakukan oleh Choudhry R.M., et al. maka dapat disimpulkan bahwa:
Ditemukan banyak organisasi termasuk bidang konstruksi sangat tertarik dengan konsep budaya keselamatan sebagai media untuk mengurangi kecelakaan kerja.
Dari sisi definisi dapat ditegaskan bahwa budaya keselamatan tidak sama dengan iklim keselamatan. Iklim keselamatan merupakan produk dari budaya keselamatan.
Budaya keselamatan yang positif akan menghasilkan sistem manajemen keselamatan yang efektif.
Halaman: [1] 2